s p a s i
Sudah menjadi hal biasa kita melakukan hal-hal yang berlebihan saat hati sedang merasa butuh sesuatu, apapun itu. Merasakan rindu, membutuhkan keberadaan orang-orang terdekat, merasa seakan-akan butuh pada semua orang, ingin menyendiri tanpa diganggu sesuatu apapun, merasa setiap hari cukup melelahkan, patah hati, putus asa, kecewa, kosong. Mungkin setiap kita pernah merasakan salah satunya. Aku percaya kita punya cara sendiri menyelesaikan masalah tersebut. Tapi kebanyakan dari kita membutuhkan sedikit jeda atau spasi antara masalah dan penyelesaiannya.
Memakan yang pedas-pedas sampai telingamu panas, minum kopi bergelas-gelas banyaknya sampai lambungmu perih, duduk melamun di kafe sendirian tanpa melakukan sesuatu apapun dan menghiraukan orang-orang di sekitar sampai kafe tutup dan diusir waitress, mengurung diri di dalam kamar, memutar puluhan film, tidur sepanjang hari sampai hari berikutnya, memandang tampias di langit-langit kamar, duduk sendiri memandang jalanan di trotoar sepanjang dingin malam hingga flu, sujud selama mungkin sambil menangis seusai melakukan solat sampai tertidur, membaca buku atau membuka sosial media di gadget sampai mata merah dan berair, bermain game online sepanjang siang dan malam, merokok sebanyak yang diinginkan, menonton film sedih di bioskop sendiri agar bisa menangis sejadi-jadinya adalah salah sebagian dari bentuk-bentuk jeda. Setiap tubuh kita memiliki tindakan masing-masing terhadap kondisi hati. Tak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Bahwa tubuh membutuhkan waktu untuk pulih dari kondisi seperti ini. Tak bisa dikatakan aneh, karena beberapa hal tersebut memang bisa memperbaiki suasana hati, walaupun tidak banyak. Memang tidak akan membantu dan mengubah banyak hal, tapi setidaknya ada kepuasan dari dalam diri. Aku rasa, setidaknya dengan melakukan hal tersebut kita tidak cukup bodoh dari pada membohongi diri sendiri.
Memakan yang pedas-pedas sampai telingamu panas, minum kopi bergelas-gelas banyaknya sampai lambungmu perih, duduk melamun di kafe sendirian tanpa melakukan sesuatu apapun dan menghiraukan orang-orang di sekitar sampai kafe tutup dan diusir waitress, mengurung diri di dalam kamar, memutar puluhan film, tidur sepanjang hari sampai hari berikutnya, memandang tampias di langit-langit kamar, duduk sendiri memandang jalanan di trotoar sepanjang dingin malam hingga flu, sujud selama mungkin sambil menangis seusai melakukan solat sampai tertidur, membaca buku atau membuka sosial media di gadget sampai mata merah dan berair, bermain game online sepanjang siang dan malam, merokok sebanyak yang diinginkan, menonton film sedih di bioskop sendiri agar bisa menangis sejadi-jadinya adalah salah sebagian dari bentuk-bentuk jeda. Setiap tubuh kita memiliki tindakan masing-masing terhadap kondisi hati. Tak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Bahwa tubuh membutuhkan waktu untuk pulih dari kondisi seperti ini. Tak bisa dikatakan aneh, karena beberapa hal tersebut memang bisa memperbaiki suasana hati, walaupun tidak banyak. Memang tidak akan membantu dan mengubah banyak hal, tapi setidaknya ada kepuasan dari dalam diri. Aku rasa, setidaknya dengan melakukan hal tersebut kita tidak cukup bodoh dari pada membohongi diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar