Kuutarakan Sayangku Padamu dengan Setangkai Keulayu



Harusnya musim kemarau sudah mulai masuk. Namun demikian, curah hujan masih tinggi. Pertemuan angin berpotensi memicu pertumbuhan awan, angin baratan belum ingin beristirahat mungkin karena lintas khatulistiwa akhir-akhir ini suka panas berlebihan. Hujan masih sering turun, kadang gerimis kadang juga lebat. Aku suka aroma saat hujan lebat turun jam empat sore dan matahari bersinar di waktu bersamaan. Di waktu yang bersamaan pula, setelah sekian lama Mei datang ke rumah.
 
Aku teringat dulu saat masih usia tujuh, Mei ke rumahku membawa beberapa tangkai buah keulayu. “Aku sendiri yang memanjatnya di pohon tepian sungai, tak tahan kulihat ada tangkai yang banyak buahnya, takut dicuri anak-anak lain maka kupanjat sendiri pohonnya. Jangan sampai Mak dan Apak tahu ya”, kata Mei berbisik.

Dulu aku merengek pada Mak untuk dihantarkan belajar mengaji pada kakeknya. Tapi Mak bilang aku sudah lancar mengaji. Hilanglah alasanku untuk bisa bermain dengan Mei setiap malam. Aku pernah mendengar Mei mengaji, dia juara lomba tilawah anak di kabupaten kami. Kata Mei, kelak saat dewasa dia ingin dinikahi laki-laki yang pintar mengaji agar tidak perlu repot-repot membeli kaset rekaman dan memutar pitanya untuk mendengar bacaan Qur’an seperti di masjid yang diputar tiap menjelang shalat magrib itu. Aku terkagum-kagum mendengar ceritanya.

Hari ini, Mei datang dengan malu-malu. Payung yang dibawa Mei tidak cukup berbakat melindunginya dari percikan hujan. Ujung-ujung gamisnya basah. Aku memersilahkannya masuk, ia berbincang dengan Mak di dapur, lalu kemudian pulang tanpa mengatakan sepatah katapun padaku. Dari teras rumah, aku memerhatikan dia berjalan membelakangiku, semakin lama semakin mengecil dari pandanganku. Dulu, setiap kali pulang bermain dari rumahku, aku selalu mengantar Mei pulang, memboncengnya dengan sepeda tua yang selalu kugunakan kemana saja. Jika aku melepaskan tangan saat sedang mengayuh sepeda, Mei selalu mengancam akan melompat sambil menangis.

Hujan jam empat sore pelan-pelan mulai mereda. Durasinya tidak terlalu lama. Aku berjalan mencari pisang goreng. Tertarik, aku melihat pohon keulayu sudah berbuah, aku berjalan menuju pohon tersebut di tepian sungai. Kupetik beberapa tangkai yang banyak buahnya, kemudian pergi ke warung membeli pisang goreng. Di warung yang sama aku melihat Mei sedang membeli kopi untuk Apak seperti kebiasaan kecilnya, jauh sebelum ia merantau melanjutkan pendidikan. Sebelum ia beranjak pergi, aku menyapanya.  

“Mei, aku sendiri yang memetiknya di pohon tepian sungai, tak tahan kulihat ada tangkai yang banyak buahnya, takut dicuri anak-anak lain maka kupetik beberapa tangkai yang banyak buahnya. Aku yakin di tempatmu merantau tak kau temui buah sejenis ini. ” Kataku, menahan malu. Mei tersenyum memerhatikanku, menundukkan kepala, menerima pemberianku, mengucapkan terima kasih lantas beranjak pergi. Berjalan cepat membelakangiku, jilbabnya berkibar-kibar. Aku memerhatikannya, tapi Mei tidak menoleh lagi.

Terima kasih untuk pertemuan singkat, senyum hangat, dan perbincangan yang tak begitu panjang di sudut kampung ini.

Komentar