Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

ROKO(K)PI

Ayo seduh dulu beberapa cangkir kopi, atau secangkir   untuk bersama juga tak masalah. Tak begini lagi kita nanti jadinya. Mungkin ada yang kawin, beranak, kemudian berbahagia. Atau mungkin salah satu dari kita akan menjadi pengembara, naik kereta, kemudian menghilang entah di sudut kota atau di puncak gunung yang mana. Ayo lewati panjangnya malam dulu. Tak ada rokok seperti kurang ramai. Di kantongku ada sebatang, aku minta pemantik, siapa yang punya? Kita hisap rokok sebatang saja jika memang tak punya, tapi kalau bisa jangan cepat habisnya. Biar ada teman minum kopi. Ayo menunggu pagi. Seperti tak menyenangkan tidur malam di usia ini. Kau, ambillah gitar dan mainkan sesukamu. Boleh mencaci tapi jangan berteriak. Nyanyikan lagu sesukamu. Sambil kita bincangkan tentang rusaknya dunia bolehlah kau nyanyikan lagu tentang moleknya makhluk Tuhan bernama perempuan asal jangan kau bawa nama bapak-ibu kita. Ayo sruput lagi kopinya. Kopi kita mulai dingin. Agar tetap nikm...

Cerita Kita tentang Pelangi hingga Komedi Putar

Kau adalah manusia yang kujumpa sesaat setelah hujan reda. Syukurnya aku tak menjumpaimu di saat pelangi ada. Aku takut pamali. Karena, walaupun pelangi membentuk pita warna-warni raksasa dengan panjang gelombang sekian nanometer mirip busur cahaya yang terbentang menuju horizon, dalam waktu yang tidak lama dia akan menghilang. Aku tak suka jika perjumpaan kita yang menurutku memesona itu berakhir demikian. Aku tak suka jika kau datang dalam waktu yang singkat kemudian menghilang begitu saja, kemudian datang lagi di hujan reda mana yang kau hendaki dan menghilang lagi, begitu seterusnya. Kau tahu tentang kisah Ikan Paus Merah yang mengelilingi tujuh lautan dengan panah tertancap di tubuhnya selama berabad-abad? Cerita ini dituliskan seseorang di tepian pantai sebuah kota di mana pelangi tidak pernah memudar, katanya. Namanya Simon’s Town , tepatnya di Pelabuhan Ratu. Kau tahu itu dimana? Aku tidak pernah tahu. Tapi aku ingin sekali tahu. Jika aku tak suka menjumpaimu di saat ...

KITA, di kota masing-masing

Untuk seorang kamu, aku cuma mau mengingatkan kalau hari ini di pertengahan musim penghujan yang lalu kita saling bertukar cerita tanpa saling bertukar pandang. Harusnya kau mengucapkannya saat kornea mata kita berjumpa. Tapi tak masalah, kita bisa berjumpa pada titik yang sama, yaitu pada titik keyakinan dan penerimaan.   Sejak saat itu kita membangun hubungan sangat tidak mudah. Mulai dari sikap tempramenmu yang tidak karuan, kadar cemburumu yang luar biasa, serta aku yang tidak pernah mau mengalah dan diatur kamu sedikit pun. Kita masih belajar mengalahkan ego masing-masing yang tinggi. Bahkan dengan bodohnya, kadang-kadang terlintas pikiranku hendak ingin pergi. Ya… terkadang aku memang benar-benar bodoh pada banyak hal, kuharap kamu mengerti. Sekarang pertengahan musim panas, kata temanku di tempatmu turun hujan tadi siang. Seperti yang pernah kukatakan pdamu dulu, itu berarti rinduku telah sampai di kotamu. Di kotaku hujan belum turun sama sekali. Sebelum menulis ini...