Cerita Kita tentang Pelangi hingga Komedi Putar



Kau adalah manusia yang kujumpa sesaat setelah hujan reda. Syukurnya aku tak menjumpaimu di saat pelangi ada. Aku takut pamali. Karena, walaupun pelangi membentuk pita warna-warni raksasa dengan panjang gelombang sekian nanometer mirip busur cahaya yang terbentang menuju horizon, dalam waktu yang tidak lama dia akan menghilang. Aku tak suka jika perjumpaan kita yang menurutku memesona itu berakhir demikian. Aku tak suka jika kau datang dalam waktu yang singkat kemudian menghilang begitu saja, kemudian datang lagi di hujan reda mana yang kau hendaki dan menghilang lagi, begitu seterusnya.

Kau tahu tentang kisah Ikan Paus Merah yang mengelilingi tujuh lautan dengan panah tertancap di tubuhnya selama berabad-abad? Cerita ini dituliskan seseorang di tepian pantai sebuah kota di mana pelangi tidak pernah memudar, katanya. Namanya Simon’s Town, tepatnya di Pelabuhan Ratu. Kau tahu itu dimana? Aku tidak pernah tahu. Tapi aku ingin sekali tahu. Jika aku tak suka menjumpaimu di saat pelangi ada, maka aku ingin mengajakmu melihat pelangi bersama di mana pelangi tidak pernah memudar. Tapi tak perlu melihat paus merahnya. Aku tak akan sanggup. Kau tahu kan aku tak suka darah. Terlebih lagi aku tak akan tega melihatnya kesakitan begitu. Persis seperti saat aku melihatmu terjangkit flu. Makanya saat musim hujan tiba, kusarankan kau jangan terlalu banyak keluar rumah.

Ayo duduk sejenak. Aku kehabisan cerita membahas tentang pelangi. Ingin sejenak aku duduk di sebelahmu. Sementara kau menggantikanku bercerita, aku ingin menatap lekat-lekat ke arahmu disebelahku. Di hadapanku kau tak perlu terlihat pintar. Karena aku lebih suka memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kita. Seperti menekuri tanah basah seusai hujan, misalnya. Atau jika kau tak keberatan kau boleh membacakan prosa-prosa yang kau karang sembarang. Aku suka. Kadang-kadang kau suka konyol. Aku mulai sangat menyukaimu wahai pria berlesung pipi yang suka melarangku minum kopi. Barangkali rasa ini lebih mirip seperti aku di usia lima yang girang pada komedi putar.

Maafkan aku yang dulu suka melamunkan hal aneh-aneh. Dulu aku sempat membayangkan memiliki kekasih yang dapat kuajak menonton pertunjukan-pertunjukan seni, datang ke galeri dan pameran, memainkan musik untukku, atau menuliskan puisi untukku dan menjadikannya lagu. Namun sepertinya aku mulai paham bahwa sebenarnya aku tak ingin kau datang hanya dari atau karena satu-dua kejadian.  Datanglah dengan konsistensi dan komitmen panjang sekalipun kelak selera kita tak sama aku akan berusaha memperkenalkan kesukaaan-kesukaanku kepadamu. Bila kau nantinya menjadi jodohku, aku ingin kita belajar menghargai perbedaan-perbedaan di antara kita.

Komentar