ROKO(K)PI



Ayo seduh dulu beberapa cangkir kopi, atau secangkir  untuk bersama juga tak masalah. Tak begini lagi kita nanti jadinya. Mungkin ada yang kawin, beranak, kemudian berbahagia. Atau mungkin salah satu dari kita akan menjadi pengembara, naik kereta, kemudian menghilang entah di sudut kota atau di puncak gunung yang mana.

Ayo lewati panjangnya malam dulu. Tak ada rokok seperti kurang ramai. Di kantongku ada sebatang, aku minta pemantik, siapa yang punya? Kita hisap rokok sebatang saja jika memang tak punya, tapi kalau bisa jangan cepat habisnya. Biar ada teman minum kopi.

Ayo menunggu pagi. Seperti tak menyenangkan tidur malam di usia ini. Kau, ambillah gitar dan mainkan sesukamu. Boleh mencaci tapi jangan berteriak. Nyanyikan lagu sesukamu. Sambil kita bincangkan tentang rusaknya dunia bolehlah kau nyanyikan lagu tentang moleknya makhluk Tuhan bernama perempuan asal jangan kau bawa nama bapak-ibu kita.

Ayo sruput lagi kopinya. Kopi kita mulai dingin. Agar tetap nikmat, boleh kau sruput sambil menikmati khayalan tentang hebatnya masa depan, jangan lagi kau khayalkan perempuan sebagai pengganti rokok yang habis sejak tadi.

Aku lebih suka kita yang seperti ini. Kita bahagia tapi anak kecil dalam diri kita tetap hidup, tidak perlu dibunuh seperti kebanyakan anak-anak sosialita yang terlihat bahagia namun membosankan. Kebebasan seperti ini akan kita rindukan. Khawatir kita tak boleh lagi mencaci sambil berteriak di hadapan anak kita kelak.

Kelak, saat hidup kita mulai banyak kisah, raga telah berpindah, impitan kehidupan mulai longgar satu persatu, napas mulai berat, dalam istirahat di antara semua kisah kita akan mengenang banyak hal. Tawa yang yang tak pernah kecil di masa lalu, cacian yang tak pernah halus, inspirasi yang muncul dari hal-hal bodoh, dan percobaan-percobaan kecil buah hasil ingin tahu di masa pencarian.

Komentar